Selasa, 08 Januari 2013

Pola Isi Media



McQuail (1987), menyatakan bahwa isi media sebagai bukti komunikatornya, serta bukti masyarakat dan budayanya dari suatu sistem komunikasi massa.
Sebagai bukti komunikatornya, melalui isi media dapat kita analisis arah pesan dan karakteristik komunikatornya. Misal: Isi  Suara Karya merupakan bukti bahwa surat kabar ini merupakan pendukung pemerintahan saat ini; Isi majalah Trubus membuktikan bahwa komunikator adalah ahli pertanian dan peternakan; Isi majalah Topples membuktikan bahwa komunikator berselera ’rendah’; dsb.
Sebagai bukti masyarakat dan budayanya, melalui isi media dapat dianalisis tentang karakteristik masyarakat dan budayanya. Misal isi media-media Indonesia pada tahun 1950 -1959 membuktikan bahwa masyarakatnya mempraktekkan budaya ’liberal’.
Secara umum, isi media dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar. Yaitu: berita (news); opini (views); dan iklan (advertising). Kelompok-kelompok itu masing-masing dapat dibedakan lagi menurut jenis peristiwanya. Misal: berita politik; berita ekonomi; berita olahraga; berita hiburan; opini politik; opini ekonomi; iklan politik; dan sebagainya.
A. Kelompok berita, meliputi antara lain hard news; soft news; spot news; developing news, dan continuing news (Gaye Tuchman dalam eriyanto 2002). Hard news adalah berita mengenai peristiwa yang terjadi saat itu,dan penting diketahui publik. Kategori berita ini sangat dibatasi oleh waktu dan aktualitas. Soft news adalah berita yang berhubungan dengan kisah manusiawi. Kategori berita ini tidak ditentukan waktu dan aktualitas, melainkan  apakah informasi yang disajikan kepada khalayak tersebut menyentuh emosi dan perasaan khalayak, missal kisah mengenai orang dari Kediri yang ingin sekali naik haji, sampai berani duduk di kabin pesawat Garuda. Spot news adalah  subklasifikasi dari berita yang berkategori hard news. Dalam spot news, peristiwa yang akan diliput tidak bisa direncanakan. Misal berita kecelakaan, kebakaran, gempa bumi, peristiwa-peristiwa yang tidak bisa diprediksi. Developing news adalah subklasifikasi lain dari hard news. Baik spot news dan developing news umumnya berhubungan dengan peristiwa yang tidak terduga. Tetapi dalam developing news dimasukkan elemen lain, peristiwa yang diberitakan adalah bagian dari rangkaian berita yang akan diteruskan keesokan atau dalam berita selanjutnya. Continuing news adalah subklasifikasi lain  dari hard news.
Berita adalah laporan tentang suatu fakta atau peristiwa. Dan karenanya dalam proses pencarian berita dan penulisan berita, sama sekali tidak boleh terdapat opini.  Ini menunjukkan bahwa pekerjaan wartawan dan media adalah menyampaikan fakta, meskipun Ia memang tidak bisa menggambarkan peristiwa apa adanya 100% sesuai dengan kenyataan
            Menurut Fishman (dalam Eriyanto, 2002), ada dua kecenderungan studi bagaimana proses produksi berita dilihat.
Pandangan pertama, sering disebut sebagai pandangan seleksi berita (selectivity of news). Dalam bentuknya yang umum pandangan ini seringkali melahirkan teori seperti gatekeeper. Intinya, proses produksi berita adalah proses seleksi. Seleksi ini dari wartawan di lapangan yang akan memilih mana yang penting dan mana yang tidak, mana peristiwa yang bisa diberitakan dan mana yang tidak. Setelah berita itu masuk ke tangan redaktur, akan diseleksi lagi dan disunting dengan menekankan bagian mana yang perlu dikurangi dan bagian mana yang perlu ditambah. Pandangan ini mengandaikan seolah-olah ada realitas yang benar-benar riil yang ada diluar diri wartawan. Realitas riil itulah yang akan diseleksi oleh wartawan untuk kemudian dibentuk dalam sebuah berita.
Pandangan kedua, sering disebut dengan pembentukan berita (creation of news). Dalam perspektif ini, peristiwa itu bukan diseleksi, melainkan sebaliknya-dibentuk. Wartawanlah yang membentuk peristiwa: mana yang disebut berita dan mana yang tidak. Peristiwa dan realitas bukanlah diseleksi, melainkan dikreasi oleh wartawan. Dalam perspektif ini, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana wartawan membuat berita. Titik perhatian terutama difokuskan dalam rutinitas dan nilai-nilai kerja wartawan yang memproduksi berita tertentu. Ketika bekerja, wartawan bertemu dengan seseorang. Wartawan bukanlah perekam yang pasif yang mencatat apa yang terjadi dan apa yang dikatakan seseorang. Melainkan sebaliknya, ia aktif. Wartawan berinteraksi dengan dunia (realitas) dan dengan orang-orang yang diwawancarai, dan sedikit banyak menentukan bagaimana bentuk dan isi berita yang dihasilkan. Berita dihasilkan dari pengetahuan dan pikiran (bacalah teori kontruktivis dalam handsout Teori Komunikasi), bukan karena ada realitas objektif yang berada diluar, melainkan karena orang akan mengorganisasikan dunia yang abstrak ini menjadi dunia yang koheren dan beraturan serta mempunyai makna. Lagi pula, proses terbentuk berita dalam pandangan ini tidak mirip dengan proses seleksi berita: seakan ada informasi yang diambil oleh wartawan, informasi itu kemudian diambil lagi oleh redaktur, dan seterusnya. Setiap bagian pada dasarnya membentuk konstruksi dan realitasnya masing-masing.
B. Kelompok opini, meliputi tajuk rencana (editorial), karikatur, artikel, kolom, dan surat pembaca. Editorial adalah opini berisi pendapat dan sikap resmi suatu media sebagai institusi penerbitan terhadap persoalan aktual, fenomental, dan atau kontroversial yang berkembang dalam masyarakat. Karikatur adalah opini redaksi media dalam bentuk gambar yang sarat dengan muatan kritik sosial dengan memasukkan unsur kelucuan, anekdot, atau humor agar siapapun yang melihatnya bisa tersenyum. Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informatif), mempengaruhi, dan menyakinkan, atau menghibur. Disebut lepas, karena siapapun boleh menulis artikel denga topik bebas sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing. Pojok adalah kutipan pernyataan singkat nara sumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik atau kontroversial, untuk kemudian dikomentari oleh pihak redaksi dengan kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, dan adakalanya reflektif. Kolom adalah opini singkat seseorang (kolomnis) yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan yang terdapat dalam masyarakat. Kolom lebih banyak mencerminkan cap pribadi penulis. Surat pembaca adalah opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus suarat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya atau masyarakatnya.
C. Pola Isi Media
            Reese dan Shoemaker, 1996, menyatakan bahwa pola isi media massa mempunyai kecenderungan sebagai berikut:
1.      Bias politik. McQuail (1992, dalam Reese & Shoemaker 1996) mendefinisikan bias sebagai suatu kecenderungan yang kuat untuk meninggalkan objektivitas kebenaran. Banyak pengamat melihat bahwa berita-berita politik media cenderung menampilkan bias politik. Menurut McQuail, terdapat empat (4) tipe bias pemberitaan:
  1. Partisanship,  terjadi karena secara terbuka dan intensif pihak editorial mendukung kepada suatu kandidat politik.
  2. Propaganda, terjadi karena tindakan dari partisan yang intensif dalam usahanya mendukung kandidat politik. Misal propaganda yang dilakukan oleh pihak media ”pemerintah” berkenaan suatu kebijakan pemerintah.
  3. Unwitting bias, terjadi secara terbuka dan tidak sengaja-seperti pemilihan suatu topik dengan berhati-hati untuk mempertimbangkan layak tidaknya suatu berita.
  4. Ideology, terjadi secara tidak sengaja namun seseorang akan mengkonstruksi peristiwa sesuai dengan ideologinya.
2.   Perilaku, media massa selalu (seringkali) memberitakan perilaku-perilaku manusia. Perilaku kejahatan menduduki peringkat pertama sebagai materi berita, disusul perilaku sexual.
3.      Penyimpangan, peristiwa-peristiwa yang mengandung potensi penyimpangan (deviance) mempunyai nilai berita yang lebih tinggi dibanding peristiwa-peristiwa yang wajar.
4.      Sumber dan topik baru. Nilai berita diukur dari kebesaran peristiwanya  atau arti pentingnya. Dalam hal ini sumber berita merupakan ukuran berita, begitu juga suatu topik berita. Sumber dan topik berita yang sedang populer di masyarakat mempunyai nilai berita yang tinggi.
5.    Pola geografik, materi berita cenderung mengikuti  karakteristik tempat tinggal khalayaknya. Peristiwa yang lebih dekat (fisik maupun emosional) dengan khalayak lebih layak  diberitakan dibanding dengan peristiwa yang jauh. Konsep nilai berita seperti seringkali disebut proximity.
6.   Pola demografik, materi berita cenderung mengikuti karakteristik umur, pendidikan, status sosial ekonomi,  kegemaran/profesi khalayaknya[1].

Daftar pustaka:
Eriyanto, 2002, Analisis Framing: Kontruksi, Ideologi, dan Politik Media, Yogyakarta: LKiS.
McQuail, 1987, Teori Komunikasi Massa ed. 2, Jakarta: Erlangga
Shoemaker & Reese, 1996, Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content, USA:Longman.



[1] Pada perkembangannya pola demografik terperinci lagi mengarah ke pola psikografik. Psikografik menunjuk pada karakter, sifat kepribadian, kebiasaan, adapt-istiadat.